Minggu, 16 Juni 2013

(Analisis Kasus) Video Tawuran Antar Pelajar

Analisis Video Tawuran Antar Pelajar

Akhir-akhir ini tawuran antar pelajar mulai marak terjadi, baik tawuran pelajar di kota-kota besar maupun tawuran pelajar di daerah. Banyak faktor yang dapat mendorong terjadinya tawuran mulai dari faktor internal yaitu, kurangnya pondasi agama dan faktor lingkungan pergaulan yang jelek. Menurut saya kurangnya pondasi agama dalam diri pelajar akan berpengaruh terhadap tingkah laku mereka.  Jika pendidikan agama yang diberikan mulai dari rumah sudahlah bagus atau jadi perhatian, tentu anak akan memiliki akhlak yang mulia. Dengan akhlak mulia inilah yang dapat memperbaiki perilaku anak. Sedangkan faktor lingkungan pergaulan yang jelek juga akan membuat seseorang terpengaruh dengan lingkungan itu sendiri.
Selain faktor internal, faktor eksternal pun sangat mempengaruhi anak, seperti faktor dari keluarga, diantaranya adalah kurangnya perhatian orangtua terhadap anak. Bisa saja anak tersebut membuat masalah karena ingin diperhatikan atau anak tersebut kemudian merasa bebas karena tidak diperhatikan oleh orangtuanya. Seringnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga juga sangat jelas berdampak negatif pada anak, karena si anak tersebut akan beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar. Sekolah pun ikut andil dalam penyebab tawuran, seperti lingkungan sekolah yang kurang merangsang siswanya untuk belajar, serta suasana belajar yang monoton dan tidak adanya fasilitas untuk menyalurkan bakat-bakat mereka, hal-hal tersebut akan memicu siswa untuk melakukan hal-hal yang negatif seperti tawuran.
Disamping itu sekolah pun memiliki peran besar dalam menghentikan budaya tawuran antar pelajar yang masih saja terjadi. Dan inilah tugas utama sekolah untuk merubah pola pikir dan prilaku siswa yang harus diarahkan kepada hal-hal yang positif sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu mencakup:
    1. . Ranah kognitif, yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Dalam hal ini siswa di berikan penyuluhan tentang bahaya tawuran. Dan kepada siswa yang sering melakukan tawuran dipisahkan dengan teman-teman yang lain, dan diberi bimbingan konseling tingkat tinggi untuk menghilangkan sikap buruknya.
    2. Ranah afektif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dalam ranah afektif diharapkan siswa mempunyai sikap religius,  agar senantiasa melakukan kegiatan yang positif dan menghindari tawuran.
    3. Ranah psikomotor, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik, seperti tulisan tangan, mengetik, dan berenang.
Salah satu penyebab seringnya terjadi tawuran ialah kurangnya fasilitas sekolah untuk  menyalurkan bakat-bakat mereka. Seharusnya sekolah bisa memfasilitasi siswanya dan mengadakan ekstrakulikuler agar bakat serta minat yang dimiliki siswa dapat tersalurkan.
Selain dari pihak sekolah, kepada pihak orang tua juga untuk lebih memperhatikan anak-anaknya dan membekali pendidikan agama yang baik untuk mereka, karena pembekalan pendidikan agama adalah faktor penting yang membuat anak tercegah dari tawuran. Dan faktor yang paling penting dalam pencagahan tawuran ialah kesadaran dalam diri siswa untuk tidak melakukan sikap anarkis yang mengedepankan emosi dengan cara tawuran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar